Asbabun Nuzul dan Tafsir Q.S Al-Lail ayat 1-4
Asbabun Nuzul dan tafsir Q.S Al-Lail ayat 1-4
Al-Lail, ayat 1-4
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى (1) وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى (2) وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى (3) إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى (4
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
Asbabun Nuzul
Ibnu Abi Hatim dan yang lainnya meriwayatkan dari Al-Hakam bin Aban dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki kaya yang memiliki sebatang kurma yang dahannya menjulur ke pekarangan rumah seorang laki-laki fakir yang memiliki banyak anak. Jika laki-laki itu datang ke rumahnya, ia sering memanjat pohon kurma tadi untuk mengambil buahnya. Tetapi, terkadang beberapa butir kurma tersebut jatuh ke tanah lalu anak-anak orang fakir itu mengambilnya. Akan tetapi, jika laki-laki kaya itu melihatnya, ia segera turun lantas merenggutnya kembali kurma yang telah dipegang oleh anak-anak itu. Bahkan, apabila kurma itu telah berada didalam mulut anak itu, maka ia juga tak segan-segan memasukkan jarinya ke mulut mereka untuk mengambilnya kembali. Laki-laki fakir itu lantas mengadukan tindakan tetangganya tersebut kepada Rasulullah. (Setelah mendengar pengaduannya), Rasulullah lantas menyuruhnya pulang ke rumah. Suatu hari, Rasulullah bertemu dengan pemilik kurma tersebut. Beliau lalu berkata, "Berikanlah kepada saya pohon urmamu yang dahannya menjulur ke rumah si Fulan dan sebagai imbalannya engkau akan mendapatkan sebatang pohon di surga." Akan tetapi, laki-laki itu menjawab, "Saya ingin memberinya karena saya memiliki banyak pohon kurma. Akan tetapi, diantara semuanya tidak ada yang paling saya sukai buahnya daripada pohon yang satu ini." Setelah berkata demikian, laki-laki itupun berlalu. Ketika itu, ia sempat berpapasan dengan seorang laki-laki yang sempat mendengarkan percakapannya dengan Rasulullah. Laki-laki yang mendengarkan percakapan tadi lantas bergegas menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, apakah imbalan yang engkau janjikan kepada laki-laki kaya tadi juga berlaku bagi saya jika saya berhasil mendapatkan pohon kurma itu?" Rasululah menjawab, "ya". Laki-laki yang juga memiliki banyak pohon kurma itu lantas berlalu dan segera menemui si pemilik kurma. Setelah bertemu, si pemilik kurma berkata, "Apa pendapatmu dengan ucapan Muhammad yang menjanjikan akan member saya sebatang kurma di surga jika saya mau memberikan kurma saya yang condong ke rumah si fulan? Akan tetapi, saya menanggapinya seraya berkata, "Saya ingin memberinya karena saya memiliki banyak pohon kurma. Akan tetapi saya sangat menyukai buah pohon yang satu itu.' Laki-laki yang datang itu lalu berkata, "Apakah engkau bersedia menjualnya?" laki-laki kaya menjawab, "Tidak, kecuali jika saya diberi apa yang saya mau. Sementara itu, saya tidak yakin ia akan memberinya". Laki-laki tadi berkata lagi, "Berapa imbalan yang engkau inginkan?" Si pemilik kurma menjawab. "Empat puluh batang kurma." Mendengar ucapannya itu, laki-laki yang datang itu berkata, "Pemintaanmu itu sungguh terlalu tinggi." Setelah berkata demikian, laki-laki itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Baiklah, saya setuju membelinya dengan empat puluh batang kurma. Sekarang, jika engkau sungguh-sungguh, panggillah saksi jual belinya!" laki-laki itu lantas memanggil beberapa orang kaumnya untuk menjadi saksi transaksi tersebut. Setelah selesai, laki-laki tadi lantas datang kepada rasululah dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya pohon kurma itu telah menjadi milik saya dan saya sekarang memberikannya kepada engkau." Rasulullah lantas datang ke rumah laki-laki miskin tadi lalu berkata, "Pohon kurma ini sekarang menjadi milikmu dan keluargamu." Allah lalu menurunkan ayat ini (Al-Lail: 1-21).
Ibnu Katsir mengatakan riwayat ini sangat ganjil.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-Mugirah, dari Ibrahim, dari Alqamah, bahwa ia datang ke negeri Syam, lalu masuk masjid Dimasyq (Damaskus) dan mengerjakan salat dua rakaat di dalamnya, lalu mengucapkan doa berikut: "Ya Allah, berilah aku rezeki teman duduk yang saleh." Lalu duduklah ia bergabung ke dalam majelis Abu Darda, maka Abu Darda bertanya kepadanya, "Dari manakah engkau berasal?" Alqamah menjawab, "Dari Kufah." Abu Darda bertanya, bahwa bagaimanakah engkau mendengar bacaan Ibnu Ummi Abdin (maksudnya Abdullah ibnu Mas'ud) terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 1-3) Maka Alqamah membacakannya dengan bacaan berikut: dan (demi) laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 3) Tanpa memakai wama khalaqa, sehingga bacaannya menjadi waz zakari wal un'sa. Maka Abu Darda menjawab, bahwa sesungguhnya ia pernah mendengar bacaan itu dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, tetapi mereka masih tetap meragukan bacaan itu. Kemudian Abu Darda berkata, "Bukankah di kalangan kalian terdapat orang yang mempunyai jamaah yang sangat besar dan pemegang rahasia yang tiada seorang pun mengetahuinya selain dia, dan yang dilindungi dari godaan setan melalui lisan Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam?"
Imam Bukhari meriwayatkan hadis sehubungan tafsir ayat ini dan juga Imam Muslim melalui jalur Al-A'masy, dari Ibrahim yang mengatakan bahwa murid-murid Abdullah ibnu Mas'ud datang kepada Abu Darda, mereka mencarinya dan akhirnya menemukannya. Maka Abu Darda bertanya kepada mereka, "Siapakah di antara kalian yang pandai membaca Al-Qur'an menurut qiraat Abdullah?" Mereka menjawab, "Kami semuanya." Abu Darda bertanya, "Siapakah di antara kalian yang paling hafal?" Mereka menunjuk ke arah Alqamah. Maka Abu Darda bertanya, bahwa bagaimanakah engkau dengar dia membaca firman-Nya: Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). (Al-Lail: 1) Maka Alqamah menjawab, bahwa terusannya (sesudah ayat berikutnya) ialah: dan (demi) laki-Laki danperempuan. (Al-Lail: 3)
Abu Darda pun berkata, "Demi Allah, aku pernah mendengar bacaan itu dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, dan beliau tidak menghendaki aku membacanya dengan bacaan: 'dan penciptaan laki-laki dan perempuan. ' (Al-Lail: 3) oleh karena itu demi Allah, aku tidak mau menuruti kemauan mereka.”Demikian teks hadis menurut Imam Bukhari.
Dan demikianlah ayat ini dibaca oleh Ibnu Mas'ud dan Abu Darda; dan Abu Darda sendiri telah me-rafa'-kannya, yakni telah mendengarnya langsung dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam
Adapun menurut pendapat jumhur ulama, maka mereka membacanya sebagaimana yang termaktub di dalam mushaf usmani, yaitu mushaf induk yang telah disebarkan ke berbagai negeri Islam di masa itu, yaitu: dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 3)
Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah melalui firman-Nya:
{وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى}
Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). (Al-Lail: 1)
Yakni apabila malam hari menyelimuti semua makhluk dengan kegelapannya.
{وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى}
dan siang apabila terang benderang. (Al-Lail: 2)
Yaitu terang benderang berkat cahayanya.
{وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالأنْثَى}
dan penciptaan laki-laki dan perempuan. (Al-Lail: 3)
Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
وَخَلَقْناكُمْ أَزْواجاً
dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan. (An-Naba': 8)
Dan firman-Nya:
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنا زَوْجَيْنِ
Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan. (Adz-Dzariyat: 49)
Mengingat sumpah yang dikemukakan dengan menyebut nama berbagai hal yang berlawanan, maka subjek sumpahnya pun demikian pula. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman-Nya:
{إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى}
sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. (Al-Lail: 4)
Maksudnya, amal perbuatan yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya berlawanan pula dan beraneka ragam; maka ada yang berbuat baik dan ada yang berbuat buruk. Dalam firman berikutnya disebutkan
Mungkin itu yang bisa kami paparkan.semoga bermanfaat
Pelajari lebih lanjut klik disini
Komentar
Posting Komentar